Tag

,

Oleh Sartika Sari
(Harian Analisa, 16 Oktober 2011)

KARYA sastra tidak lahir dari omong kosong belaka. Benar. Di balik kesederhanaan dan keindahannya, sebuah karya menyimpan keistimewaan yang merupakan cermin kreativitas penciptanya. Lantas, bagaimana dengan proses kreatifnya? Untuk hal yang satu ini, tentu setiap orang berbeda-beda. Mulai dari penemuan ide, penuangan, hingga pempublikasiannya.
Seseorang yang kreatif paham benar bagaimana dia harus menyiasati suatu keadaan atau bahkan mampu menghadirkan sesuatu yang berbeda. Ya, bukankah kreativitas menjadi salah satu pembeda seseorang dengan orang lainnya?

Dalam KBBI, kreativitas berarti kemampuan untuk mencipta; daya cipta. Tak berbeda jauh dengan pandangan Yelia Dini Puspita, M.Psi, dari Lembaga Psikologi Terapan Universitas Indonesia (LPTUI) yang mengatakan, kreativitas adalah kemampuan untuk berpikir secara berbeda, sehingga menghasilkan pemecahan masalah yang unik yang tidak dipikirkan oleh kebanyakan orang. Kreativitas juga merupakan kemampuan untuk menghasilkan sebuah karya yang bersifat original, memiliki daya guna yang tinggi, bermanfaat bagi lingkungan maupun untuk memecahkan persoalan.

Banyak lagi pendapat atau pandangan lain perihal kreativitas. Pada akhirnya, semua merujuk pada kemampuan seseorang menghadapi realita yang tercermin dalam kelancaran, kelenturan (fleksibilitas) dan orisinalitas berpikir. Kreativitas yang dimiliki setiap orang, memiliki proses dan pemicu yang berbeda. Dalam berkreasi, umumnya seseorang mendayagunakan imajinasi, daya khayal yang dikolaborasikan dalam menghadapi realitas. Tujuannya, untuk menghasilkan karya yang unik dan bernilai.

Kreativitas ibarat sebuah pisau. Jika tidak diasah, tidak akan menghasilkan sesuatu dengan maksimal. Mencoba dan tidak berhenti berkarya merupakan salah satu bentuk pengasahan kreativitas yang baik. Di samping itu, kreativitas juga butuh pemicu. Ya, hal tersebut memang tidak kasat mata, tetapi berpengaruh.

Masih dalam konteks yang sama, perihal kreativitas. Dalam dunia sastra, karya tulis berupa puisi, cerpen, novel dan berbagai bentuk lain, merupakan cerminan dari kreativitas penulis yang dibaliknya terdapat proses dan pemicu yang luar biasa. Seperti yang kita ketahui bersama, khususnya untuk seorang penulis fiksi yang dituntut memiliki daya imajinasi tinggi, pemicu kreativitas bisa berasal dari mana saja. Selain dengan kegiatan membaca yang memang telah teruji khasiatnya, masih banyak lagi pemicu lain. Sejalan dengan pengakuan beberapa penulis yang termaktub dalam artikel Ria Ristiana pada Harian Analisa (25/09/2011), “Ide, Mengawali Proses Kreatif Penulis” memaparkan perihal penemuan ide, dalam pembahasan ini kita akan menilik beberapa pemicu kreativitas penulis. Beberapa pemicu itu diantaranya:

Keberadaan Komunitas

Dunia kepenulisan banyak dihuni berbagai komunitas penulis. Di kota Medan sendiri, terdapat banyak komunitas. Diantaranya adalah Omong-Omong Sastra (OOS), Komunitas Garapan Pemuda Tahan Lapar (GARPUTALA), Komunitas Home Poetry (HP), Komunitas Mahasiswi Pecinta Sastra Indonesia (KOMPENSASI), Komunitas Pecinta Membaca dan Berkarya (KOMA), Komunitas Penulis Anak Kampus (KOMPAK), Komunitas Penulis Muda Sumatera Utara, Komunitas Sastra Indonesia (KSI), Komunitas Tanpa Nama (KONTAN) Unimed, Rumah Kata dan beberapa komunitas lain yang dihuni para penulis termasuk siswa SMA. Kehadiran berbagai macam komunitas sempat dikhawatirkan akan menimbulkan perselisihan dan kubu-kubu yang akan menghadirkan efek buruk.

Jika ditilik dari sisi positif, persaingan jika dilakukan dengan cara sehat, dapat menjadi salah satu motivasi dan pemicu kreativitas. Akan tercipta persaingan sehat antarkomunitas dan antaranggota terutama dalam hal kreativitas dan produktivitas, secara tidak langsung menjadi motivasi tersendiri untuk tiap orang agar tetap berkarya dan menghasilkan yang lebih baik.

Nostalgia

Dalam penulisan fiksi umumnya, kenangan merupakan salah satu bahan kajian yang tidak pernah gersang. Bentuk syair, cerpen dan novel sekalipun banyak yang bermuasal dari kenangan. Dengan kolaborasi imajinasi dan kemampuan berbahasa yang baik, kenangan yang berisikan berbagai hal dan kegiatan berkesan itu akan menjadi sebuah tulisan yang menggugah pembaca. Tidak hanya sebatas mengutarakan, lebih jauh dengan kelihaian penulis, sebuah kenangan dapat menjadi suatu gambaran dan pandangan yang bermanfaat untuk orang lain.

Membaca Realitas

Dalam Puisi dan Bulu Kuduk, Acep Zamzam memaparkan tentang kebebasan seorang penyair dalam berimajinasi. Bkan berarti hanya berkutat pada khayalan belaka. Sebab yang dihadapinya adalah realitas dan bukan angan-angan kosong. Dengan demikian, seorang penyair ditantang untuk melahirkan suatu realitas baru dari keadaan yang lalu atau paling tidak memberi makna baru pada realitas yang sudah ada. Tulisan jenis apapun, tentu seorang penulis selau dalam pergulatan tersebut dan tidak berangkat dari raung kosong atau kekosongan semata.

Dalam menghadapi realitas, seorang penulis yang mengalami pergulatan tidak hanya sebatas melaporkan atau mengabarkan keadaan, melainkan mewujudkannya sebagai sesuatu yang konkrit.

Menetapkan Target

Sukses adalah proses. Selama masa itu, target serupa tangga-tangga yang harus dilalui. Menetapkan target menjadi salah satu pemicu motivasi yang berpengaruh penting. Sebab dengan adanya target, gerakan-gerakan sastra akan menjadi jelas arah dan sasarannya. Misalnya, target baca puisi keliling dengan menerbitkan antologi. Sudah pasti harus diawali dengan aktivitas menulis yang secara tidak langsung telah memaksa untuk produktif dan kreatif berkarya.

Melakukan Kegiatan Yang Tidak Biasa

Iseng. Ya, barangkali salah satu dari wujud ketidakbiasaan itu diawali dengan iseng. Menghadapi kenyataan yang konstan seringkali menimbulkan kejenuhan yang kemudian berdampak buruk pada kreativitas. Untuk itu, sebagai pemicu dalam berkreasi dan menghasilkan karya yang kreatif, mencoba hal-hal baru yang tidak pernah dan tidak biasa dapat menjadi salah satu kiat mengabrasi kejenuhan.

Selain dari beberapa pemicu di atas, masih banyak lagi pemicu lain yang tentunya dimiliki seorang penulis. Sebuah karya kreatif, tentu saja mencerminkan kreativitas penulisnya dalam melakukan pergulatan kreatif. Dalam pengertian yang sederhana, kreativitas dapat dimaknai sebagai hasil pertemuan atau lebih tepatnya hasil pergulatan antara penulis dengan dunianya, dengan realitas yang dihadapinya.

Ketidakbiasaan juga bisa terlihat melalui proses penciptaannya. Teringat pada kisah Saini K.M., dalam kutipan Puisi dan Bulu Kuduk oleh Acep Zamzam Noor yang menyatakan, menulis puisi merupakan bagian dari semedi. Hal ini dilakukan dengan tujuan untuk menangkap realitas yang dihadapi dengan sejernih-jernihnya, sedalam-dalamnya dan sekaya-kayanya.

Adapula antologi Aku Butuh Darahmu karya Masmuni Mahatma yang memuat sejumlah puisi yang ditulis dalam kurun waktu 1999-2008.

Luar biasa. Di balik keindahan sebuah karya, tersimpan rahasia pergulatan yang pantang dianggap biasa. Berkenankah menyelusup dalam rahasia itu? Mari kita Menulis.

Penulis; adalah Mahasiswa jurusan Sastra Indonesia UNIMED.