Tag

,

Minggu, 23 Oktober 2011

Tuliskan semua yang kamu rasakan di kaca atau apa saja. Lalu hapus. Dan kau tak akan bersedih lagi.”

KALIMAT-KALIMAT itu terngiang lagi di benak Ai-Bi. Gadis kecil bermata bintang itu ragu-ragu melakukan apa yang dianjurkan Paman Han, lelaki yang pernah ditemuinya dalam mimpi. Ai-Bi bimbang. Di kaca mana ia harus tuliskan lara? Kaca jendela, kaca meja, atau cermin dalam kamarnya? Atau pada kaca piring dan gelas yang jumlahnya terus menipis karena terus jadi sasaran pertengkaran ayah dan ibu? Ah, Ai-Bi tak pernah tahan mendengar nyaring piring pecah atau muncratan darah dari telapak tangan ayah. Darah yang selalu berhasil membuat ibu bungkam. Bukan karena ibu lelah membantah, tapi karena dia pingsan. Ibu takut darah. Fobia, kata Kak Sita, anak tetangga sebelah rumah yang kuliah di fakultas kedokteran.

Ai-Bi merasa dia juga punya fobia. Pada kaca atau apa saja yang bisa memantulkan bayangannya. Di kamarnya, semua kaca ia tutupi berbagai poster, mulai dari poster perkalian, pembagian, hingga gambar Princess, juga Winnie The Pooh, bahkan selimut perca buatan Oma. Apa saja, yang bisa menghalangi pantulan wajahnya. Ai-Bi takut melihat bayangan itu. Anak kecil bermata bintang yang redup tak cemerlang. Ibu bilang, Ai-Bi tak boleh cemberut, apalagi bersungut. Ibu suka menjewernya bila ia merengut. Ai-Bi harus menurut, padahal susah sekali tersenyum, apalagi tertawa, saat hatinya ingin menangis. Ia selalu heran, bagaimana Ibu bisa ceria, dan selalu tertawa ketika bertemu teman-temannya.

Mungkin Ibu pemain sandiwara, seperti Tante Nusye, teman Ibu. Beberapa kali Ai-Bi diajak menonton Tante Nusye berpentas teater di Sasana Budaya. Di sebuah pertunjukan, Tante Nusye menangis pilu, sampai para penonton ikut menangis. Juga Ibu. Ketika pertunjukan usai, dan Ibu memburu ke belakang panggung, mereka berpelukan sambil tertawa-tawa. Aneh sekali orang dewasa. Waktu Ai-Bi bertanya pada Tante Nusye, dia menjawab, juga sambil tertawa, “Itu kan cuma sandiwara, gadis kecil.” Ai-Bi melongo.

Sejak saat itu, Ai-Bi senang bermain “habis nangis ketawa” seperti Ibu dan Tante Nusye. Saban kali habis menangis ketakutan mendengar pertengkaran ayah-ibu, ia akan menyelinap ke luar rumah. Masuk ke halaman rumah Kak Sita sambil tertawa pada siapa saja yang ia temui di rumah itu. Pada papa-mama Kak Sita, pada Mbak Surti pembantu rumah tangga mereka, bahkan pada Sully, anjing kampung milik Kak Sita yang rewel dan selalu menyalak ketus padanya. Tapi Ai-Bi tetap tertawa juga pada anjing pengecut itu. Ai-Bi tertawa melihat Sully mendelik sengit padanya tiap kali dihela Kak Sita.

Ai-Bi senang bermain dengan Kak Sita yang pandai bercerita. Ada saja kisah yang didongengkannya buat Ai-Bi. Sama seperti dirinya, Kak Sita tak punya saudara. Tidak kakak, tidak adik. Anak tunggal, kata Kak Sita, yang suka meminta Ai-Bi jadi adiknya saja. Katanya, dia cuma bersaudara dengan buku-buku. Ai-Bi tak percaya mama Kak Sita melahirkan buku-buku yang disusun rapi di kamar itu. “Tapi aku mau juga bersaudara dengan buku supaya pandai cerita seperti Kak Sita,” pikir Ai-Bi tiap kali.

Ai-Bi sudah mulai bisa membaca. Mungkin ia bisa meminta Ibu melahirkan buku-buku yang akan jadi bakal saudaranya. Kak Sita juga punya buku tulis yang bagus. Sampulnya beludru warna toska, dengan lis coklat muda. Ai-Bi pernah membaca nama buku Kak Sita yang tertulis di sampul, “Diary”. Mirip nama teman Ai-Bi di taman bermain, Diany yang sering bertukar bekal dengan Ai-Bi. Bertukar bekal dengan Diany selalu membuatnya bersemangat. Ai-Bi tak terlalu suka makan bila sendiri. Ia jarang merasa lapar saat sepi. Apalagi di rumah cuma ada Mbok Nah. Jadi ia sering malas makan, dan biasanya mengemil gulali, dan permen kopi. Tapi Mbok Nah selalu repot menyuruhnya makan nasi, sayur, lauk pauk, dan selalu memaksa Ai-Bi berhenti makan gulali dan permen kopi.

“Ayo Non, makan dulu. Nanti sakit kalau tidak mau makan. Itu gulali dan permen juga bikin gigi rusak. Nanti kalau ompong, Non Ai-Bi ndak cantik lagi,” begitu Mbok Nah selalu membujuk. Biasanya Ai-Bi merengut, tapi ia akan segera jatuh kasihan pada Mbok Nah, lalu ia mengalah, dan makan meski bosan. Bolak-balik ayam. Bolak-balik daging. Bolak-balik ikan. Tentu saja, setiap hari ada sayur. Kalau sempat, Ibu memasakkan spaghetti, atau macaroni panggang atau menu lain. “Kamu perlu makanan bergizi, biar sehat, cepat besar, dan pintar,” kata Ibu, selalu. Ibu sepertinya tak pernah tahu kalau bukan kurangnya makanan yang membuat ia malas makan, melainkan karena kesepian.

Untunglah di dunia ini ada abon dan kecap yang selalu sukses membuat ia mau makan dalam kesunyian. Kecap selalu berhasil membuatnya makan cukup lahap. Ibu pernah sebal melihat betapa tergila-gilanya Ai-Bi pada kecap, dan memboikot cairan sedap berbahan kedelai hitam itu dari dapur dan meja makan mereka. “Nanti bisa-bisa kulit kamu sehitam kecap, lho,” kata Ibu kesal. Lalu Ai-Bi berhenti makan. Kemudian, berbulan-bulan Ai-Bi mogok makan nasi, dan hanya minta mi instan. Badannya susut, dan jatuh sakit. Ibu dan Ayah bertengkar karenanya. “Mengurus anak satu saja tidak becus,” sindir Ayah menusuk. Ibu tak betah hanya diam. Dia membantah. Mereka pun bertengkar lagi. Piring-piring, gelas-gelas kembali pecah, dan Ai-Bi gelisah.

Dalam demam, Ai-Bi melangkah ke luar kamar, mengendap berjalan ke rumah Kak Sita. Tapi rumah itu tak ada. Ia tak berhasil menemukannya. Padahal, Ai-Bi yakin ia menuju ke sana. “Kenapa cuma ada cahaya dan ruang kosong, ya?” Ai-Bi berhenti. Masih terdengar tengkar Ayah dan Ibu. Dua kepala batu itu. Dan kepala Ai-Bi beku. “Semoga kepalaku cuma jadi es saja. Jangan jadi batu seperti kepala Ayah-Ibu,” doanya. Dan Tuhan mengabulkan doa Ai-Bi. Anak kecil itu mengira kepalanya jadi es, yang melelehkan cairan dingin dan manis, yang rasanya seperti es loli ketika ia jilati. Tapi ternyata itu bukan lelehan dari kepala, melainkan airmata. Airmata dengan rasa gula. Lalu Ai-Bi tak lagi ingat apa-apa.

“BANGUN, anak manis. Bangun.” Tepukan halus terasa di pipi Ai-Bi. Matanya membuka. Wajah lelaki itu begitu dekat dengan wajahnya. Bukan Ayah. Tak ada Ibu. Ai-Bi sedikit takut. Tapi ia suka raut ramah wajah lelaki di hadapannya. Di mana dia? Di surga? Atau neraka? Tak jelas di mana, tapi pasti bukan di kamarnya. Sebab, kaca-kaca dan cermin tak tertutup poster dan selimut perca. Ai-Bi bisa melihat pantulan dirinya di mana-mana. Lelaki itu tersenyum. Sepertinya dia baik, tak suka marah seperti Ayah. Tangannya juga tak punya bekas luka. Pasti dia belum pernah meremas gelas. Ai-Bi sedikit tenang. Matanya tak lagi melelehkan air gula.

“Siapa namamu?” tanya lelaki itu. Ai-Bi ingat Kitaro, musisi Jepang yang musik-musiknya sering diputar Ibu pagi-pagi. Ai-Bi tak terlalu suka musiknya. Meski kata Ibu musik Kitaro bagus, Ai-Bi sering takut mendengarnya. Ia hanya suka melihat sampul albumnya yang kebanyakan didominasi warna jingga, penuh imaji samar, tertumpang-tindih dengan citra wajah Kitaro yang jarang tersenyum. Angker, tapi Ai-Bi merasa dia baik, juga tak suka bersandiwara seperti Ibu, dan Tante Nusye. “Pasti aku boleh cemberut di depannya,” pikir Ai-Bi tiap kali melihat gambar Kitaro.

Anehnya, di depan lelaki mirip Kitaro itu Ai-Bi justru ingin tersenyum semanis mungkin. Ia senang dengan air mukanya yang hangat. Tak beku seperti di sampul-sampul album itu. Ia tersenyum, lalu tertawa. Lelaki itu memeluknya. Menangis. Ai-Bi heran. “Kenapa Paman menangis?” tanyanya. Tapi paman itu terus menangis, sementara Ai-Bi terus tertawa. Entah kenapa. Apa mungkin ada saklar ajaib yang menghubungkan hati keduanya yang berada pada kutub yang berbeda? Ai-Bi jatuh cinta seketika. Pada Paman Han, lelaki mirip Kitaro itu. Juga pada tangis dan pelukan hangatnya.

“Kenapa Paman menangis tadi?” tanya Ai-Bi. “Sebab kamu tertawa,” kata Paman Han. Ai-Bi tak mengerti. Ia bahkan tak tahu di mana mereka berada. Namun tempat asing itu terasa akrab bagi Ai-Bi. “Kita sedang duduk di hatimu, Nak,” kata Paman Han. Ai-Bi tak tahu apakah paman itu serius atau bercanda. “Mana mungkin hati bisa dimasuki? Mbok Nah malah mesti mengeluarkan hati dari dada ayam sebelum dimasak jadi bacem,” ingatnya. Tapi, sudahlah, ia ingin disayang Paman Han. Semoga saja Paman Han mau menyayanginya lebih dari Ayah, yang seperti musuh abadi bagi Ai-Bi.

“Kamu tahu arti namamu?” tanya Paman Han. Ai-Bi tak mendengar. Ia sedang mengamati Paman Han dan sibuk menerka dari mana senyum di wajahnya datang, padahal bibirnya tak menyunggingkan senyum. Ai-Bi yang tak tahu bahwa senyuman kadang datang dari hati itu juga sibuk heran kenapa ia berani menatap bayangannya di kaca. Mata bintangnya berbinar cemerlang tanpa airmata gula, dan senyum secerah cabai merah merekah di bibirnya.

Paman Han menyentuh pipi Ai-Bi dengan kedua telapak tangan, lalu menolehkannya beberapa derajat. Ai-Bi tak lagi menatap cermin. Manik matanya kini tertusuk tajam oleh mata Paman Han. Tusukan yang mengalirkan hangat. “Kamu tahu arti namamu?” ulang Paman Han, penuh sayang. Sepanjang ingatan Ai-Bi, belum pernah ia disapa begitu lembut oleh Ayah. Ingatan yang membuatnya melambung. Ai-Bi menggeleng. Kepalanya berbohong tentu saja. Sebab Ibu pernah beberapa kali bercerita tentang arti namanya. Tapi Ai-Bi ingin mendengar dari Paman Han.

Paman Han mengelus kepala Ai-Bi tiga kali, dan merengkuh bahunya sambil berkata, “Ai itu cinta. Bi berarti cantik dan indah.” “Oh, sama saja seperti cerita Ibu,” pikir Ai-Bi. Tapi dia senang mendengar itu juga dari Paman Han. Terlebih lelaki itu bicara sambil memeluk dan mengelus kepalanya. Ai-Bi merasa nyaman dan tak ingin kehilangan hangat itu. “Paman kenal Ibu?” tanya Ai-Bi tiba-tiba seakan yakin akan mendapat jawaban ya. “Indira? Ya. Sangat,” jawab Paman Han singkat. “Paman kenal Ibu di mana? Di kantor? Atau Paman pernah latihan sandiwara juga sama-sama Tante Nusye?” cerocos Ai-Bi.

Entah kenapa ia tak takut bertanya, dan tak khawatir dihardik seperti biasa ketika ia bertanya pada Ayah. Ai-Bi yakin Paman Han tak akan memakinya “anak jahanam”. “Paman mengenal ibumu dulu sekali. Di sebuah waktu di masa lalu kami,” kata Paman Han tanpa peduli apakah Ai-Bi mengerti kata-katanya, “Kami mencintaimu.” Meski bingung, Ai-Bi senang. Kalau Paman Han juga mencintainya, artinya cinta Ai-Bi tak bertepuk sebelah tangan.

“Pernah lihat namamu ditulis dengan huruf kanji?” tanya Paman Han seperti membelokkan arah perbincangan. Dahi Ai-Bi mengernyit sedikit. Matanya memperhatikan tangan Paman Han menggambar di udara. Tak tertoreh apa-apa di sana. Ia tak melihat apa pun. Jelas, udara memang bukan kanvas. Itu hanya ruang nirwarna dan telunjuk Paman Han tanpa tinta. Tentu tidak akan tergambar apa pun di sana. Seakan mengerti apa yang dipikirkan gadis kecil di depannya, lelaki itu menarik tangan Ai-Bi mendekati cermin dan mengembuskan napas ke permukaannya.

Uap hangat melapisi sebidang cermin dengan embun dan Paman Han segera menuliskan garis-garis di atasnya. “Ai…. Bi…. Cinta…. Indah….” Paman Han menulis sambil bicara serupa Ai-Bi mengeja alif, ba. Huruf kanji yang membentuk namanya itu amat cantik. Ai-Bi ingin sekali bisa juga menuliskannya. “Waaaaa, bagus. Ai-Bi juga pengin bisa nulis sebagus itu. Paman mau ajari?” tanya Ai-Bi. Sambil mengangguk, Paman Han mengangkat dan menggendong Ai-Bi, menimangnya seperti bayi. Ai-Bi berpikir, kapan ayah mau menimangnya seperti ini.

Ingatan tentang Ayah kembali membuatnya muram. “Kenapa Ayah tak mau berlaku manis seperti ini padaku?” pikir Ai-Bi. Padahal ia sayang sekali pada Ayah. Tapi sikap dingin dan tak peduli itu seperti dinding yang tak bisa ditembus Ai-Bi dengan senyum manis, apalagi rewel tangis. Hardikan Ayah selalu terasa seperti pisau majal yang begitu sakit mengiris. Kalau saja Ai-Bi punya lampu Aladdin, mungkin permintaan pertama yang ia sodorkan pada Ginny adalah menukar Ayah dengan Paman Han. Ibu pasti juga senang. Tapi Ayah tentu akan sangat marah, dan bisa-bisa seluruh gelas di rumah pecah diremasnya. Ai-Bi bergidik. Gagasan buruk. Ia tak mau tangan Ayah terluka parah dan harus dijahit seperti selimut perca buatan Oma.

“Paman kerjanya apa? Jualan tinta juga seperti Ayah?” Yang ditanya tertawa kecil. Mungkin geli mendengar Ai-Bi menyebut ayahnya yang punya perusahaan bolpoin itu sebagai penjual tinta. Kini mereka duduk di salah satu bangku yang menghadap ke luar, ke kebun, yang baru disadari keberadaannya oleh Ai-Bi. Sebatang pohon rimbun berdaun ungu yang tak ia ketahui namanya menyapa mata. Nanti ia akan tanyakan pada Ibu dan Mbok Nah. Mungkin mereka tahu nama pohon bagus itu. “Aku penulis, Nak. Kerjaku membuat cerita,” kata Paman Han. “Oh ya? Paman kenal H.C. Andersen? Tahu cerita Burung-burung Undan Liar? Atau cerita prajurit yang punya pemantik api ajaib? Ai-Bi juga suka cerita Gadis Penjual Korek Api ,” potong Ai-Bi bersemangat. Paman Han kembali tertawa. Kali ini agak keras. “Ya, ya. Aku juga kenal Andersen cuma dari ceritanya. Sama sepertimu. Paman belum lahir waktu dia menulis cerita,” katanya.

Kembali Ai-Bi jatuh hati. Kali ini pada kesediaan Paman Han berbincang panjang dengannya. “Kenapa Ayah tak jadi penulis saja, ya?” benaknya bicara. “Ai-Bi suka menulis?” tanya Paman Han. Ai-Bi menggeleng malu karena belum lancar menulis. Mendadak muncul keinginan kuat dalam dirinya untuk segera pandai menulis. Ia ingin jadi penulis seperti Andersen dan Paman Han. “Ai-Bi juga pengin bisa menulis cerita,” cetusnya. Paman Han mengelus kepalanya. “Pasti bisa,” katanya. “Ai-Bi juga pengin bisa menulis huruf kanji seperti paman tadi,” sambung Ai-Bi cepat. Tawa renyah Paman Han kembali terdengar. “Pasti bisa, Nak,” Paman Han meyakinkan. Ai-Bi percaya sekali, dan meski belum lagi tahu bagaimana caranya, ia yakin pasti akan segera bisa menulis.

“Paman mau mengajari Ai-Bi menulis?” tanyanya ragu. Manik mata Ai-Bi menatap utuh mata Paman Han. Sorotnya memohon. Yang ditatap menganggukkan kepala. “Pasti,” jawab Paman Han lembut. “Betul, Paman? Kapan?” kejar Ai-Bi riang. “Sekarang,” sahut Paman Han. “Begini,” katanya seraya meraih telunjuk kanan Ai-Bi. Lelaki itu tak paham kalau gadis kecil itu kidal. Tapi Ai-Bi tampaknya tak terlalu peduli dengan jemari mana ia akan menulis nanti. Ia terlalu bahagia.

“Tuliskan semua yang kamu rasakan di kaca atau apa saja. Lalu hapus. Dan kau tak akan bersedih lagi,” kata Paman Han. Mata jernih Ai-Bi mengerjap. Entah kenapa, suara Paman Han barusan seperti datang dari ujung lorong yang panjang. Terpiuh. Jauh. Tiba-tiba Ai-Bi ingin menangis. Ia takut Paman Han pergi. Ia tak ingin Paman Han pergi. “Ai-Bi pengin belajar menulis, bikin cerita seperti Paman,” kata Ai-Bi. Kali ini sedikit merajuk dan suaranya bergetar menahan tangis. Tangannya mencari tangan Paman Han. Ia ingin dipandu.

“Iya, begitulah cara menulis. Caraku menulis,” kata Paman Han. “Tapi telunjuk kan tidak punya tinta, Paman?” kata Ai-Bi. “Jemari kita, Ai-Bi, adalah pena ajaib untuk menuliskan apa saja. Semusykil apa pun ceritamu,” katanya tanpa peduli Ai-Bi tak mengerti apa arti musykil itu. Mendadak, kesedihan mendesak hati Ai-Bi. Siap meluap. Tenggorokannya sakit menahan tangis. Ai-Bi memeluk Paman Han.

Rasa akan kehilangan lelaki yang ia jatuhi hati berkali-kali dalam beberapa saat ini membuat Ai-Bi patah hati. “Ai-Bi mau menulis, dan bikin cerita seperti Paman,” katanya berulang-ulang. Ia takut kehilangan, dan berharap janjinya itu akan menahan Paman Han kendati tak ada sedikit pun tanda lelaki itu akan pergi. Ai-Bi menangis dalam pelukan Paman Han. Airmatanya meleleh lagi. Tapi kali ini tanpa rasa gula. Tawar. Ai-Bi tak bisa menawar.

“BANGUN, Sayang. Bangun, Ai-Bi. Ayo, minum dulu, ya,” kata Ibu di sampingnya. Di tangan Ibu ada air putih dalam gelas Bugs Bunny kesayangan Ai-Bi. Di mana Paman Han? Kenapa dia tak ada di samping Ai-Bi? “Bu, Paman Han mana?” tanya Ai-Bi. Suaranya seperti igau. “Siapa, Nak? Paman siapa?” tanya ibu terkejut. Jantungnya seperti tersengat. “Paman Han. Tadi Ai-Bi ketemu Paman Han. Dia mau ajari Ai-Bi menulis,” katanya tetap dengan nada igau. “Ah, itu cuma mimpi, Nak. Nggak ada Paman Han,” kata ibu sambil memeluk dan mengelus kepala Ai-Bi. Di hatinya rindu mengamuk, menghancurkan benteng yang ia bangun bertahun-tahun. Helaan panjang napasnya tak dapat menghalau nyeri yang terusik lagi. Akhirnya Paduka Han datang menemui sang putri dalam mimpi. “Seandainya saja kamu bisa kembali pada kami, Han, pasti kita bertiga sangat bahagia,” sambat Indira entah pada siapa.

Indira tahu, Han tak akan bisa kembali pada mereka. Masa lalu yang telah tamat, amat jarang mau bertandang ke masa sekarang, apalagi ke masa depan. Ia terpaksa mengubur Han bersama ingatan tentang cinta yang tak direstui semesta. Indira menyeka matanya diam-diam. “Istirahatlah tenang, Han. Kami mencintaimu,” bisiknya dalam hati. Di sebuah ruang penuh cahaya, di dimensi berbeda, seorang lelaki duduk terpaku, diam mencintai dua perempuan terkasihnya. Menimang mimpi tentang Ai-Bi.

Karawaci, 21 April 2011
Buat sepasang keramik merah beraksara kanji

Indah Ariani, wartawan di majalah mode dan gaya hidup Dewi. Bergiat di Koinsastra dan Gerakan Indonesia Membaca Sastra.