Tag

,

Minggu, 16/10/2011 | 10:07 WIB

Oleh : Muna Masyari

Heranku tak kunjung menepi. Dari bilik kamar yang gelap, pengap, panas, dan bau, kuintip keluar. Ke rumah Pak Karim yang serba mewah. Rumah berukuran besar dengan dinding, lantai dan tiang berlapis marmer itu lebih pas kusebut istana. Berkilap-kilap. Kisi-kisi jendela dan pintunya berlapis kuning emas. Dari jendela yang terbuka, kulihat gordennya melambai-lambai tertiup angin dengan rangkaian manik berjuntai-juntai, terbuat dari mutiara. Ketika rangkaian mutiara itu saling bersentuhan, maka menimbulkan bunyi-bunyian yang sangat merdu. Melebihi merdunya saronen, musik kesukaanku.

Pekarangannya juga luas, dipenuhi pohon-pohon beraneka buah yang rindang dan sedang berbuah ranum. Padahal, dulu Pak Karim hanya memiliki sepetak kebun, warisan satu-satunya –selain gubuk tua berdinging tabing- dari almarhum sang ayah. Kebun yang terletak di belakang rumahnya dengan luas 10 meter persegi itu ditanami pohon singkong sepanjang musim. Diselingi tanaman sayur-mayur di bagian pinggirnya. Hasil pohon singkong tersebut ditanak tiap hari oleh Bu Karim.

Kami, warga kampung, sudah beralih ke makanan pokok jagung dan beras putih, keluarga Pak Karim masih itu-itu saja. Singkong-singkong di kebunnya digali tiap sore. Esok paginya, singkong tersebut dikuliti, di-pasat, lalu dikukus hingga matang dan menjadi makanan yang mengenyangkan. Untuk satu hari, cukup menggali dua pohon. Lauknya pun hanya tumis kangkung atau bayam yang bisa diambil dari kebun sendiri pula.

Tidak ada yang istimewa. Namun sekarang ia tiba-tiba menjadi kaya raya. Rasa penasaranku terus bergolak.

Dari bilik kamarku yang gelap, pengap, panas, dan bau, kuintip keluar. Ke rumah Pak Karim yang taman rumahnya dipenuhi bunga-bunga beraneka rupa. Sepanjang kuperhatikan, kelopak bunga-bunga itu tak pernah layu apalagi rontok. Selalu merekah dengan mahkota utuh dan segar. Harum menyeruak membaui alam sekitar. Lampu-lampu bundar menghiasi setiap pojok taman.

Rumah Pak Karim terlihat benderang dan ramai. Setiap waktu, ada saja yang datang bertamu ke sana, membawa bingkisan segala macam. Setelah saling panggil-jawab salam di beranda depan, tamu-tamunya lantas diajak masuk. Dilayani pelayan-pelayan cantik. Senda-tawa mereka mengundang iri siapapun yang mendengar. Padahal, semula keluarga Pak Karim hanyalah petani miskin. Jangankan ada yang bertamu ke rumahnya, saat ia mengunjungi tetangga pun lebih sering tak dipedulikan. Mungkin anggapan orang-orang tidak jauh beda denganku. Setiap Pak Karim datang, khawatir hanya untuk mencari hutangan uang.

“Bagaimana Bapak bisa hidup sebahagia sekarang?” Pertanyaan yang begitu lama mengusik pikiran, akhirnya membuncah saat Pak Karim dan isterinya mengundangku ke istana megahnya.

Sebenarnya aku sangat malu memenuhi undangan mereka. Merasa tak sopan dan rendah diri dengan keadaanku yang sangat memprihatinkan. Memakai baju berlubang-lubang serta berbadan bau. Sementara mereka berpakaian indah dan mewah. Aroma tubuhnya sewangi kasturi. Tapi mereka tidak menghiraukan kondisiku. Aku tetap diterima selayaknya.

Pak Karim dan isterinya seling menukar senyum sebentar mendengar pertanyaanku.

“Semua rahmah dari Ghuste Pangeran, Pak. Saya pun sangat bersyukur atas apa yang Beliau limpahkan pada kami,”

Aku kurang puas dengan jawaban Pak Karim.

“Siapa yang sering bertamu ke rumah Bapak ini? Sepertinya, hampir tiap saat rumah ini begitu ramai,” kejarku.

“Mereka kurir anak-anak saya. Mengantarkan bingkisan yang dikirim oleh mereka,” jelas Pak Karim, masih dengan senyum bijaknya, “oh, ya, ini titipan dari Fathir, anak saya. Hanya bingkisan kecil, karena harus dibagi rata dengan saudara-saudari yang lain,”

Aku menerimanya dengan sangat senang. Segera kunikmati. Luar biasa nikmat. Bisa kubayangkan bagaimana enaknya Pak Karim mendapat kiriman yang jauh lebih banyak dari ini setiap waktunya.

Beruntung sekali Pak Karim memiliki anak-anak yang tidak pernah melupakan orangtua. Beda dengan tan kacong yang tak pernah tahu-menahu bagaimana nasibku di sini.

“Lalu, darimana Bapak bisa membangun istana semegah ini?” Pandanganku menebar ke segala penjuru. Terkagum-kagum. Sungguh, belum pernah kusaksikan tempat seindah ini.

“Dari hasil menabung, Pak. Kami memang berusaha untuk selalu menabung dari kecil. Begitu pun yang kami ajarkan pada anak-anak.”

Aku tercenung. Kurang yakin.

“Bank apa yang memberi bunga besar, hingga Bapak mampu membangun istana semegah ini? Bukankah Bapak dulu terbiasa berhutang?” Tanyaku, agak hati-hati pada kalimat terakhir.

Kembali Pak Karim mengulum senyum. “Di BCA, Bank Central Akhirat. Saya menabung di situ,”

Bank Central Akhirat? Nama yang baru kudengar.

“Masih ingat sewaktu saya mengetuk pintu-pintu tetangga untuk minta utangan uang bila memasuki tahun ajaran baru?” Tanyanya.

Tentu saja aku tidak pernah lupa. Pak Karim dikenal sebagai orang paling sibuk bila sudah memasuki tahun ajaran baru. Akan tetapi, bila ia datang ke rumahku untuk berhutang, tidak pernah kukasih. Bukan tidak ada. Aku malas memberinya, khawatir ia akan membayar setelah berbulan-bulan. Makan sehari-hari saja cukup nasi singkong, dari mana ia akan mampu membayar hutang berjumlah ratusan ribu rupiah?

“Itu karena anak-anak saya yang di MDU dan MDW minta dibelikan Aqidatul Awam, Kholashoh Nurul Yaqin, Tarbiyatush-Shibyan, Fathul Mu’in, Fathul Majid, Nasho’ihul ‘Ibad, dan sebagainya.” Lanjutnya.

“Nama-nama apa itu?”

“Itu formulir bagi nasabah yang ingin menabung. Orang-orang di luar sana biasa menyebutnya kitab,”

“Kitab?”

“Benar. Di situ tercatat lengkap, bagaimana cara menjadi nasabah yang baik.”

Belum pernah juga kudengar nama formulir seperti yang disebutkan Pak Karim. Lagi pula, tan kacong yang seusia dengan Fathir -anak Pak Karim yang ketiga- pun tak pernah meminta dibelikan formulir semacam itu. Ia lebih memilih ikut aku ke sawah, menyiram tembakau atau membuang ulatnya, bila memasuki musim kemarau. Giliran musim hujan, ia lebih asik beramai-ramai menancapkan binis. Berkecimpung dengan lumpur bersama anak tetangga yang lain. Tidak heran, di usianya yang baru belasan tahun, tan kacong sudah pandai bertani. Menanam Tembakau, Padi, dan Jagung sendiri.

“Apa pekerjaan Anak Bapak sekarang?”

“Menjadi ustadz lillaahi ta’ala di sebuah MDU tempat ia sekolah dulu, sambil bertani.”

“Hanya itu?”

“Iya.” Bu Karim yang mengiyakan. Tersenyum bangga.

“Apa itu cukup untuk membangun istana megah dengan segala macam keindahan dan mengirim bingkisan untuk kalian?” Tanyaku, ingin membulatkan keyakinan.

“Tentu. Karena rumah megah ini sekadar bonus. Semakin banyak saldo yang kita kumpulkan, semakin indah pula bonus rumah tempat yang disiapkan.”

“Oh! Bolehkah aku menabung seperti kalian?” Aku mulai tertarik. Sudah lelah aku tinggal dalam rumah yang kondisinya sangatlah mengenaskan.

“Terlambat, Pak. Karena KTP, Kesempatan Tobat Permanen Bapak sudah tidak berlaku. Kecuali….”

“Kecuali apa?” Potongku, menahan kecewa.

“Kecuali Bapak hanya bisa memperoleh bingkisan dari Anak Bapak, seandainya Anak Bapak sudah menjadi nasabah BCA.”

“Bingkisan?”

“Iya, bingkisan doa. Hanya doa anak sholeh dan tabungan amal jariyahlah yang bisa kita terima di sini.”

Aku diam. Berpikir lama. Jadi bingkisan doa dan amal jariyah yang selalu mereka terima selama ini? Apa mungkin tan kacong akan mengirimkan bingkisan padaku? Kemarin malam saja, saat aku datang ke rumahnya –yang merupakan rumah lamaku- ia tidak memerhatikanku sama sekali. Aku dibiarkan diam di sudut ruangan, menunggu pemberian. Leherku panas. Tercekik. Aku haus, namun ia tidak hendak menyuguhiku minuman. Aku tak ubahnya pengemis di rumah sendiri. Sampai ia tertidur pun aku tetap tak dihiraukan. Tergugu melas di pojok paling gelap.

Sementara ia hanya khusuk menghitung berlembar-lembar uang hasil panen tembakau. Sesekali menjilati jempolnya supaya tidak keliru dalam menghitung per lembarnya.

Harga tembakau tahun ini memang sangat memuaskan. Dari tahun-tahun kemarin yang hanya berkisar 15-20 ribu per kilo, sekarang melonjak hingga 45-50 ribu per kilo. Pantas saja uangnya menumpuk sepulang dari gudang rokok.

Desas-desus kudengar, katanya ia mau naik haji. Bah! Bagaimana ia bisa berangkat haji sedangkan upah-upah para pekerja tembakaunya banyak yang tidak dibayar. Tukang rajam, tukang jemur, tukang gulung, semua hak mereka tidak terlunasi. Ia masih mewarisi tabiat busukku.

Sekarang, aku hanya bisa menyesali nasib.

***

Brak! Brak! Brak!

Mereka datang lagi. Suara langkahnya menggetarkan bumi. Dua sosok menyeramkan yang selalu membawa alat pukul besar dan menyemburkan api. Tanpa ba bi bu, mereka memukulkan alat pukul itu ke tubuhku. Tubuhku yang sebenarnya sudah terdiri dari susunan tulang-tulang hangus, kembali berhamburan. Setelah berkeping-keping, perlahan tulang-tulangku menyatu lagi. Mereka memukulnya lagi. Berhamburan lagi. Menyatu lagi. Terus saja begitu. Jerit tangisku tak dihiraukan.

Bila aku memberanikan diri bertanya, kenapa aku di pukul hingga hancur lebur?

Mereka menjawab, “Sudah lewat waktu shalat, dan anakmu tidak mendirikannya!”

“Kenapa aku yang harus menerima siksaannya? Bukankah anakku yang lalai?”

“Karena dulu kamu tidak pernah menuntunnya ke jalan yang hak. Khianat!”

Gelegar suaranya membuatku semakin gemetar. Tubuhku langsung menggigil. Keringat mendarah.

***

catatan:

-Tabing: Rumah berdinding anyaman bambu.

-Pasat: Diiris memanjang dengan memakai alat khusus.

-Saronen: Musik tradisional Madura yang dijadikan pengiring tari Sape Sono’.

-Ghuste Pangeran: Gusti Allah.

-Tan kacong: Anak lelakiku

-Binis: Pohon padi yang masih kecil.

-Lillaahi ta’ala: Karena Allah

***

Biodata:

Muna Masyari, perempuan yang lahir di Pamekasan, Madura, Jawa Timur.