Tag

,

Sunday, 23 October 2011
Kita tak mungkin menghibur yang telah mati, kita hanya bisa mendoakan mereka. Oleh sebab itu, kutawarkan gambaran ini pada ayahku : awal musim panas yang akan datang, aku tak akan pulang.

Jika kematian dipahami sebagai transendensi roh, tidak ada lagi koneksitas waktu maupun tempat terhadap jasad. Daging akan meninggalkan tulangnya dan aku tak yakin apa yang mungkin masih tertinggal dalam tulang-belulang tersebut kecuali kenangan-kenangan baik dan buruk yang tertampung di ingatan, dinarasikan dalam kata-kata yang santun maupun sarkastik, atau dalam kalimat-kalimat indah maupun normatif. Roh ayahku akan memakluminya.

Aku malah tak yakin apa roh ayahku bisa membedakan kehadiran fisikalku di awal musim panas yang kering dan berdebu, atau di awal musim hujan yang lembab dan basah. Bahkan semasa roh itu masih menetap di jasad ayahku, ia sudah kesulitan membedakan antara musim panas—-ia menyebutnya kemarau seperti tertulis dalam buku-buku ilmu bumi semasa aku sekolah dasar—-dan musim hujan.Ada saat-saat keduanya bertransisi begitu membingungkan. Transisi itu terekam pada pohon durian di halaman belakang rumah kami.

Aku ingat, ayahku menyayangi pohon-pohon itu, dan menghabiskan banyak masa pensiunnya dengan merawat pohon-pohon raksasa itu. Ia merawatnya bukan karena pohonpohon itu mungkin satu-satunya peninggalan fisik yang paling monumental dari nenekku—-buahnya terkenal sebagai durian terbaik di seantero kota—-tapi selalu ada saatsaat tak terlupakan ketika kelezatan daging buahnya menjadikan rumah kami sebagai tempat berkumpulnya para tetangga, sahabat-sahabat, dan sanak saudara dari tempat-tempat yang jauh. Pohon-pohon itu selalu menjatuhkan buahnya di penghujung September atau Oktober.

Beberapa bulan sebelumnya, para penjual buah keliling atau calo-calo toko buah di kota berkeliaran bolak-balik merayu ayahku untuk memperoleh hak ijon atas daging buahnya. Ayahku menandai masa-masa itu sebagai awal musim hujan.Dalam tahun-tahun belakangan setelah kesehatannya memburuk, pohon-pohon itu mulai jarang berbuah, dan kalaupun berbuah, itu akan terjadi di penghujung Maret atau April.

Ayahku tetap menandainya sebagai awal musim hujan. Ia masih terus berkeyakinan, tak lama lagi langit akan menjatuhkan banyak hujan. Hujan selalu merupakan berkah baginya.Pohon rambutan di halaman depan,pohon buni dan kedongdong di halaman samping, atau pohon duku dan langsat—-aku selalu kesulitan membedakan keduanya—-yang tumbuh di habitat yang sama dengan pohon-pohon durian ayahku akan segera bertunas.

Bunga-bunga bokor, mawar, dan kembang sungsang milik ibuku tak lama lagi akan berputik. Rumput embun dan bunga widelia yang merambat liar segera menutup retakan-retakan tanah, mengubah bentang lanskap yang kering dan cokelat menjadi warna-warna hijau dan cerah. Kami—-aku dan kedelapan anaknya yang lain—-bergantian mengirimkan pruning saw, limbing saw, secateur, carpenter’s axe, bahkan leather boat with saw protection, spandex glove, protective glasses, knapsack sprayer, juga bibit-bibit geranium dan tulip yang disterilisasi.

Suatu ketika, ia menceritakan betapa peralatan berkebun dengan sebutan-sebutan aneh itu sangat membantunya berperang melawan teki, gulma, hama ilalang, dan kumbang pengerek batang. Akan tetapi, ketika kami bergantian atau terkadang bersamasama menjenguknya saat-saat imlek atau saat-saat natal tiba, alat-alat itu masih terpajang dengan rapi di ruang tengah. Musim yang tak lagi akrab telah banyak merusak bangunan kenanganku akan ayahku.Dan modernitas acap kali melahirkan keluguan, dan kami tertawa karenanya, atau kami sedikit menyesali kebodohan-kebodohan kecil kami dalam menerjemahkannya. Itu semua menjadi kenangan tak tercampakkan.

Kami menyegelnya dalam ingatan, dan meletupkannya sebagai kisah-kisah humanis tentang sang kakek kepada anak-anak kami dalam pertemuan-pertemuan keluarga. Anak-anak kami akan menertawakan sang kakek sejenak, kemudian mempersalahkan ketidaksensitivan kami.Itu akan menjadi saat-saat yang membanggakan, setidaknya kisahkisah humanis itu telah tertranfigurasi dengan benar kepada anak-anak kami. Tapi aku telah berketetapan tak akan pulang awal musim panas yang akan datang.Aku telah berkeyakinan, roh ayahku akan memakluminya.

Seperti ia selalu memaklumi kebodohan-kebodohanku, dan tentu saja kehebatan-kehebatanku di masa kanak-kanak. Aku ingin menuliskan apa yang terjadi di kubur ayahku pada suatu awal musim panas,tetapi aku tak tahu pasti alasan tindakanku.Rasanya ada hasrat abstrak yang seakan-akan konkret sedang berbiak di dalam tubuhku. Aku harus menuliskannya, meski aku tak sepenuhnya yakin apa ada kebenaran yang melekat padanya.

Tidak masalah. Pun jika yang kutuliskan hanyalah pikiran-pikiran liar yang dimunculkan fajar di saat kita belum kunjung tertidur, atau keyakinan tiba-tiba yang dibuahkan ketidakpastian. Kuburan harfiahnya dipakai untuk menyimpan mayat. Dengan dimasukkan ke dalam kuburan,kematian itu dikotakkan, tak tampak lagi di hadapan mata. Dalam banyak kebudayaan, kuburan juga dibangun untuk tujuan menghormati mereka yang telah mati. Sesederhana itu.

Sebuah dering telepon di penggalan hari, di suatu awal musim panas, mengusik bangunan kesederhanaan itu. “Fully booked pak, sampai tanggal 5,” pemberitahuan dari sebuah biro perjalanan. “1,5 juta pak,tinggal 1 sheet,tanggal 4, extra flight pukul 22,” dari biro perjalanan yang lain. “750 ribu pak, tanggal 5, pukul 13,” dari kantor pusat sebuah maskapai penerbangan lokal. “375 ribu pak,tanggal 6,pukul 11,“ dari biro perjalanan yang pertama.

“Okey!”kuputuskan,menutup perburuan. Pukul 14.00 WIB atau lebih mungkin, koridor beraspal sepanjang area perkuburan lenggang, kering, angin menebar aroma tanah dan sedikit wangi kenanga.Spanduk-spanduk bertemakan WELCOME HOME-BUMI SEPINTU SEDULANG-NEGERI LASKAR PELANGI berukuran besar dengan gambar kepala daerah dan satu-dua tokoh masyarakat, bannerbannerberukuran sedang sampai kecil dengan warna-warni selengkap pelangi menawarkan kamar hotel – Asui Sea Food – Toko LCK (pindah alamat) – Coca-Cola – Bir Bintang – BCA – Bank Sumsel – A Mild – sampai operator telpon seluler me-nyesaki tepian koridor.

Sebagian tampak utuh, sebagian buram dilunturkan cuaca. Dedaunan rontok berlari-lari di atas aspal, sisasisa kemasan makanan dan bungkusan permen, botol-botol minuman ringan dan plastik air mineral, kotak rokok berbagai merek dan korek api gas yang sudah meledak, sandal jepit bertuliskan DAIMATU yang putus jepitannya, gulungan tisu yang mengeras, softex (?),sebagian telah menyumbat saluran drainase kota.

Kubur-kubur berukuran besar dan kecil berdesak-desakan berebut ruang:dilapisi granit–marmer citatah– sampai keramik kamar mandi; diukir sepasang patung naga–burung hong– kura-kura–atau kombinasi di antaranya; digrafir aksara Cina–Inggris– Indonesia–atau kombinasi 2 di antaranya; salib-salib berukuran besar dan kecil dari kayu bengkirai–beton bertulang– sampai stainless steel menyempil di banyak tempat; lilin-lilin putih setengah utuh dengan garis tengah 5 cm; lumeran lilin-lilin berwarna merah dengan garis tengah 1,5 cm; bukletbuklet bunga setengah layu–layu–dan membusuk… Aku membayangkan sebuah pesta! Sebuah perhelatan akbar yang baru saja usai.

Orang-orang itu, kubayangkan, berkumpul di atas kubur. Membakar hio, menyalakan lilin, membakar kimci, menggelar sesaji dari daging babi yang direbus – ayam kampung atau boiler dalam potongan-potongan utuh – kue apem berwarna merah dan putih – lemper-kue lapis dengan kombinasi 2 atau 3 warna – bolu macan – bolu kujo – bakpau tjhong kiok – sampai arak putih dalam cangkir-cangkir mungil berbahan kaca dan keramik.Mereka menabur berkubik-kubik bunga rampai dan menancapkan bertangkai-tangkai anggrek-gladiol- awar-sampai bunga sedap malam. Orang-orang itu, kubayangkan, berlama-lama di atas mayat yang sudah sangat mati atau tulang-belulang si mati.

Membanggakan si hidup ketimbanguntuk berbelasungkawa (mengapa aku tiba-tiba bersimpati pada si mati?) Beberapa pria memarkir mobil berplat B – D – BN terlalu dekat ke kubur sambil menyelipkan lembaran 5 ribuan ke tukang parkir dadakan, memperbincangkan nilai IHSG yang jatuh cukup signifikan dan kemungkinan imbas krisis ekonomi Eropa dan Amerika di semester I tahun depan,mengeluhkan harga-harga properti di kawasan Kelapa Gading – Sunter – Pantai Indah Kapuk – dan Pluit yang over-valuedatau nilai sewa ruko/rukan/rutokan di Paramount Serpong maupun Summarecon yang di luar ekspektasi, mendiskusikan si A yang ditangkap KPK atau si Z divonis bebas pengadilan tipikor atau si X yang menghilang ke Singapura…

Para ibu memperbincangkan harga emas dan logam mulia akan turun jika terjadi penguatan nilai dolar Amerika, berkeluh-kesah tentang si sulung yang akan masuk perguruan tinggi tahun depan dan sekarang sedang kebingungan memilih antara Honda Jazz atau Toyota Yaris (apa hubungannya?), atau si bungsu yang harus diikutkan les vokal – les akting – audisi ini atau fashion showitu – sampai perkembangan gadget terkini, mempergunjingkan si B menikahi si Y dan si C dicerai si W dan si D diselingkuhi si V, juga tentang kemacetan parah di kawasan pusat-pusat perbelanjaan di Jakarta dan Bandung sembari mengatakan kepada koleganya di daerah betapa bersyukurnya mereka seandainya berkesempatan menetap di kota sekecil Pangkalpinang yang lengang dan berkecukupan oksigen (puih! mereka pasti ingin mengatakan sebaliknya).

Siapa-siapakah di antara orangorang sekotaku, atau sahabat-sahabat sekotaku, atau kerabat-kerabat sekotaku yang merancang struktur berpalang asimetris dari kayu bengkirai – beton bertulang K 175 – stainless steel KW 2 dan membiarkannya lapuk – retak – dan berkarat dicuci cuaca? Mereka menggantung jasad Kristus yang telanjang pada struktur berpalang yang asimetris itu dan memajangnya di atas tumpukantumpukan mayat yang sudah sangat mati atau tulang-belulang si mati.

Sebagian daripadanya mencelah si pematung yang bodoh karena memahat tubuh Kristus sampai sedemikian buruk sehingga tampak terlalu kurus dan lebih menyerupai pengidap kusta yang kekurangan makan… Aku belum juga menemukan kubur ayahku. Atau aku telah kehilangan kubur ayahku? Tidak! Aku menemukan kubur ayahku.

Orang-orang itu, kubayangkan, membiarkan bayi-bayi raksasa mereka mengangkangi kubur ayahku. Berlari-lari di atasnya, meloncatloncat di antaranya, menginjaknginjak altarnya, merekatkan ampas permen karet yang tak lagi manis di pusaranya, menggores pekamennya (mungkin tak sengaja),melemparkan ingus (?) sehingga meng-undang semut api dan user-user bersarang di tanah kubur ayah-ku.Siapa yang dapat memastikan jika anjing-anjing manja yang sedang tertidur di peluk-an mereka tidak akan mengen-cingi kubur ayahku?

Aku tertekuk di kaki kubur ayahku, dan kehilangan dimen-si. Separuh tubuhku terpasang jasad seorang lelaki yang marah, separuh bagian yang lain terseret ke dalam ratapan. Tepat pada momen itu, aku memastikan bahwa roh ayahku telah menanggalkan kuburnya sejak awal musim panas. Dan aku tak yakin apa yang mungkin masih tertinggal di dalam tulang-belulang.●

EDDISEN FAUZI,
lahir di Pangkalpinang, Bangka-Belitung, bertempat tinggal di Jakarta, berprofesi sebagai arsitek lansekap. Tulisannya dimuat di berbagai media massa.