Tag

,

23 Oktober 2011

“Ketika sastra memiliki seorang Tolstoy, menjadi penulis itu mudah dan menyenangkan; bahkan bila kita tahu bahwa kita sendiri tidak mencapai hasil apa-apa, itu tidak menjadi masalah karena Tolstoy yang berprestasi untuk kita semua. Apa yang dilakukannya berguna untuk membenarkan semua harapan dan aspirasi yang ditanamkan dalam sastra.” (Anton Chekhov)
***

Di Mana Ada Cinta, di Sana Tuhan Ada. Begitulah Lev Nikolayevich Tolstoy atau dikenal sebagai Leo Tolstoy (1828-1910), seorang sastrawan Rusia abad ke-19 menuliskan ceritanya yang penuh dengan nuansa religius dan sarat dengan perenungan moral dan filsafat di dalam sebuah buku kumpulan cerita pendek.

Banyak karyanya bercorak realis. Pemikir sosial dan moral yang terkenal pada masanya ini, memiliki gagasan-gagasan yang kontroversial dan tak lazim. Dia sering dicap sebagai anarkis oleh kaum puritan.

Yang paling fenomenal adalah dua bukunya yang mencapai puncak fiksi realistik yaitu Perang dan Damai dan Anna Karenina. Selanjutnya, melalui karyanya Kerajaan Allah Ada di Dalam Dirimu, dia memberikan gagasan-gagasan tentang perlawanan tanpa kekerasan yang pada gilirannya memengaruhi tokoh-tokoh abad ke-20 seperti Mahatma Gandhi dan Martin Luther King Jr.

Di dalam kumpulan Di Mana Ada Cintad di Sana Tuhan Ada terdapat sebanyak lima cerita terbaik yang nyaris semuanya bernuansa religius. Pencarian Leo Tolstoy dalam menuliskan cerita sangat menyentuh dan penuh cinta spiritual. Di dalamnya, dijelaskan betapa mengasihi sesama adalah kebajikan mulia dan hanya melalui pengabdian tulus kepada sesama-lah manusia dapat meraih kebahagiaan sejati.

Lihat saja cerita berjudul “Di Mana Ada Cinta, di Sana Tuhan Ada”. Melalui Martin Avdeich si perajin sepatu yang tinggal di sebuah ruang bawah tanah dengan satu jendela, Tolstoy menunjukkan kecamuk dalam diri Martin yang tidak dapat menerima keadaan Kapiton yang meninggal setelah jatuh sakit dan merana selama seminggu. Dia mengeluh kepada Sang Pencipta dan berharap agar nyawanya saja yang diambil ketimbang anaknya, Kapiton.

Martin juga mengeluh kepada seorang lelaki tua berperawakan kecil yang datang dari Biara Trinitas. Sekali lagi dia katakan bahwa dia ingin mati. Tetapi lelaki tua itu seperti seberkas cahaya penerang yang datang kepada Martin untuk menjelaskan betapa manusia harus hidup untuk Tuhan, Tuhan yang memberi hidup, demi kuasa Tuhan maka manusia hidup sehingga manusia tidak akan berduka demi apapun dan segalanya terasa mudah.

Setelah mendengarkan saran dari lelaki tua itu, Martin lantas membeli sebuah Alkitab dan membacanya. Dari sana, Martin menemukan perenungan dan hakikat keimanan yang sebenarnya. Kehidupannya menjadi semakin tenang, dan dia mulai ikhlas melepaskan Kapiton. Alkitab senantiasa dibaca dan dihayatinya dengan lebih dalam. Pada suatu kesempatan, Martin bermimpi. Di dalam mimpi tersebut, Martin mendengarkan sesuara yang menyerukan agar besok dia melihat ke arah jalan melalui jendela ruang bawah tanahnya.

Martin tidak mengerti maksud dari mimpinya itu. Hari berikutnya, pelbagai kejadian yang tidak disengaja membuat Martin semakin dekat dengan keimanan. Rasa kemanusiaan lekas ditunjukkannya kepada siapa saja yang mengalami kesulitan. Melalui jendelanya, Martin melihat orang-orang lewat silih berganti. Sambil mengerjakan sepatu, Martin melihat manusia yang sedang kesusahan, kejadian-kejadian itu muncul dalam pelbagai bentuk.

Karena hal itu, Tuhan secara tidak langsung memerintahkan agar berbuat baik kepada sesama jika ingin “bertemu Tuhan.”

Demikian Leo Tolstoy, sangat piawai meramu kisah cinta spiritual. Kisah-kisah lainnya seperti “Tuhan Tahu, tapi Menunggu”, “Tiga Pertapa”, “Majikan dan Pelayan”, dan “Dua Lelaki Tua” terangkum dalam satu kumpulan cerita dengan judul yang sama, “Di Mana Ada Cinta, di Sana Tuhan Ada”.

Dikisahkan oleh maestro sastra dunia ini, tak hanya sebagai pelipur kesedihan tetapi juga mencerahkan jiwa, betapa Tuhan sangat dekat meraih tangan-tangan kita.

Selamat membaca!***

Delvi Yandra,
Penyuka buku, menulis puisi, cerpen dan sedikit terjemahan