Tag

,

Cerpen Suhairi Rachmad
(Radar Surabaya, 16 Oktober 2011)

KETIKA embun menjatuhkan tubuhnya pada wajah pagi, perempuan itu selalu membuka lebar-lebar jendela kamarnya. Pandangan matanya yang sayu mendarat pada sebuah danau, persis di belakang pabrik yang selalu menyemburkan asap tebal menjulang tinggi. Perempuan itu lalu menundukkan pandang, seperti membuang empedu yang pernah mengalir dalam tenggorokan.

Perempuan itu menyimpan kenang berlipatlipat dalam memori otaknya. Bola matanya menerawang jauh tanpa tatapan pasti, seperti memutar kembali pita rekaman tentang masa lalu bersama suaminya. Empat tahun silam, sebelum mereka duduk di atas pelaminan sambil mengamati tetamu yang melewati janur kuning melengkung di pintu masuk, lelaki itu baru saja menyelipkan secincin emas pada jemari lentik perempuan itu. Air mata jernih mengalir melewati lembut pipinya yang memutih. Ujung bibirnya menyembul senyum yang mekar dari akar hatinya. Tak tahukah engkau, hati perempuan itu menaruh yakin seyakin- yakinnya bahwa lelaki itu adalah orang pertama dan terakhir yang akan menjadi penghuni ranjang pengantin bersama dirinya.

Kisah ini menjadi menarik kuceritakan sejak bulan menyatakan bulat purna, ketika aroma bumbu pernikahan mengetuk pintu-pintu tetangga. Lalu mereka berkumpul dan saling berbincang satu sama lain. Dada-dada mereka berdegup kencang ingin menyaksikan wajah mempelai yang akan menjadi titik tumpu penglihatan, persis pada angka kelima belas penanggalan jawa. Maka, lampu-lampu dibuat lebih benderang, suasana langit biru juga tak menenun awan kelabu sedikit pun. Tak ada halangan untuk saling bertatap antarbisan. Ya, pada malam itu, selepas isya, ketika embun-embun menyetubuhi atap-atap dan dedaunan, resmilah perempuan itu mejadi isteri lelaki dari desa sebelah, yang sudah saling kenal sejak beberapa tahun silam.

Bulan madu minggu pertama, mereka hanya menghabiskan hari-harinya hanya di danau itu. Tak istimewa, memang. Tetapi, ini tak menghabiskan banyak uang. Mereka hanya berjalan-jalan di tepi danau, bercumbu di bawah dingin embun pagi, saling kejar, atau melempar kerikil kecil pada permukaan danau. Atau, sesekali mereka berhenti di warung kopi, lalu bersama-sama menikmatinya hingga matahari berada di sepenggalah bagian timur langit. Jika danau ini memiliki jantung dan otak, lalu bisa berbicara walaupun dengan bahasa isyarat, pastilah ia menyimpan semua kenangan yang terjadi di dekatnya, sepagi apa pun, atau segelap bagaimanapun.

Ibu Mar, orang tua perempuan itu, yang memulai cerita ini menjadi lain. Ibu Mar selalu ngomel manakala menantu lelaki itu tak membantu pekerjaan mertuanya meladang atau bekerja di sawah. Entah hanya dua kali, atau bahkan hanya sekali. Entah karena sakit atau karena memang ada halangan untuk tidak bekerja. Tetapi, mertua perempuannya selalu ngomel dan seperti kaset yang distel setiap hari. Omelannya persis sama, tak berkurang sepatah kata pun. Permohonan perempuan itu agar sang ibu tak selalu memerahkan wajah, tak digubrisnya. Setiap pagi, rumah itu selalu diawali omelan-omelan yang menyesakkan telinga.

Maka, lelaki yang tak tahan dengan sarapan suara lantang setiap pagi itu selalu menyendiri di pinggir danau. Tatap matanya seperti mencermati setiap jengkal tanah yang pernah ia lewati bersama isterinya. Ya, aromanya masih sangat terasa. Lalu, lelaki itu menggerak-gerakkan ujung hidungnya dan mengembalikan kelebat bayang dirinya dan isterinya beberapa waktu lalu. Ia tersenyum lalu bangkit perlahan. Ketika membalikkan tubuhnya, wajah lelaki itu berkerut. Ia menatap arah rumahnya seperti menatap jahanam. Ia juga melihat bayangan ibu mertuanya seperti monster yang memiliki taring pada bagian kanan dan kiri di mulutnya. Padahal, di sana, di sebuah jendela yang terbuka lebar, seorang perempuan menatap dengan mata sejuk. Perempuan itu mematung, tak ingin melepas tubuh suaminya di danau itu.

”Eh, ngapain suamimu berada di pinggir danau itu? Memangnya, ia menganggap tak ada pekerjaan lain di sini?” perempuan paruh baya itu berkacak pinggang persis di belakang perempuan yang kini mematung di atas kursi.

”Eh, budeg, ngapain suami Kamu keliling-keliling di sana? Apa ia sudah edan, hah!” perempuan itu sepertinya sudah ingin memulai melemparlempar kata hingga menimbulkan kegaduhan.

”Ah, ibu? Mengapa ibu selalu marah-marah setiap pagi? Mengapa ibu selalu mengganggu bulan madu aku dan suamiku, Bu? Ini kan belum satu bulan pernikahan aku dengan dia.”

”Eh, eh, eh, eh, menikmati bulan madu itu tidak harus muter-muter di danau itu. Kayak orang gila saja!”

Tiba-tiba, ketika matahari memeras keringatkeringat, suami perempuan itu tak jua pulang. Ia tak berpesan apa-apa. Dan sebelum perempuan itu didamprat amarah ibunya, perempuan itu bergegas mengelilingi danau, mencari sang suami, barangkali sedang duduk termenung di pinggir danau, atau menikmati aroma kopi di sebuah warung. Hingga matahari berada di atas ubun, perempuan itu tak menemukan suaminya. Ia pulang dengan tangan hampa. Ketika ia menginjakkan kaki pertama di halaman rumahnya, sang ibu sudah menyambutnya dengan alis tersambung.

”Eh, perempuan tak tahu diuntung, dari mana saja Kamu? Mana suamimu? Dari pagi nggak kerja, malah jalan-jalan tak tentu tujuannya!”

Perempuan itu tak meladeni amarah ibunya. Ia langsung lari ke kamar. Di bukanya jendela kamar, lalu muncullah pemandangan danau yang masih terlihat indah. Kembali, ia menatap suaminya di pinggir danau itu, persis di atas sebongkah batu besar. Padahal tadi, perempuan itu sudah mencarinya di sekitar batu itu. Tetapi tak ada siapa-siapa. Apakah suaminya itu sengaja mengumpet di balik batu agar tak dijemput pulang?

Perempuan itu lalu bangkit dan menahan derit pintu kamar yang biasa membuat orang mengetahui bahwa pintu itu ada yang membuka. Pandangannya menyapu ruang tamu dan kamar ibunya. Ia melangkah pelan dan sengaja tak menciptakan suara langkah. Setelah mengurangi volume nafasnya, perempuan itu tak ada yang mengetahui. Kembali, ia mendatangi sebongkah batu besar dan akan membujuk suaminya pulang ke rumah. Namun, di sana, ia tak menemukan siapa-siapa. Perempuan itu bernafas lesu lalu duduk di atas sebongkah batu. Kedua matanya mengamati orang- orang yang sempat melintas di samping kanan dan kirinya. Hasilnya tetap nihil. Dengan langkah berat, ia kembali ke rumah. Khawatir sang ibu mengetahui bahwa perempuan itu berada di danau untuk mencari suaminya. Sesampainya di kamar, perempuan itu kembali membuka jendela lebar-lebar. Ia masih melihat seorang lelaki duduk di atas sebongkah batu. Persis di pinggir danau itu. Ya, perempuan itu tak salah lihat bahwa lelaki itu adalah suaminya yang dicarinya sejak tadi pagi. Perempuan itu lalu menunduk dan melipat-lipat kulit keningnya yang putih.

”Apakah suamiku sengaja mempermainkan aku?” desisnya.

Perempuan itu lalu mengabaikan sesuatu yang dilihatnya barusan. Ia merebahkan tubuhnya sambil melepas nafas panjang. Kini, ia menatap langit-langit kamar. Beberapa saat kemudian, seseorang mengedor-ngedor pintu rumahnya. Suaranya sangat gaduh. Persis ketika ada gempa berkekuatan enam skala richter. Setelah itu, disusul suara ibunya yang ngomel tiada henti.

”Eh, perempuan budeg, mana suamimu? Sampe sekarang kok nggak pulang-pulang?” Suara perempuan yang mirip tokoh Mak Lampir dalam sinetron itu nyaris meruntuhkan langit-langit kamar. Namun, perempuan yang merebahkan tubuhnya di atas dipan itu tak bergeming sedikit pun. Ia membiarkan volume suara cempreng dari luar kamar semakin meninggi. Ia masih berasyikmasyuk melamunkan sang suami. Apakah suami itu betul-betul akan pergi dan tak kembali lagi sampai kapan pun?

Setiap kali embun menjatuhkan tubuhnya pada wajah pagi, perempuan itu selalu membuka lebarlebar jendela kamarnya. Pandangan matanya yang sayu mendarat pada sebuah danau, persis di belakang pabrik yang selalu menyemburkan asap tebal menjulang tinggi. Perempuan itu lalu menundukkan pandang, seperti membuang empedu yang pernah mengalir dalam tenggorokan.

Jika dua hari kemarin, tiga hari kemarin, atau seminggu kemarin, ia selalu melihat suaminya berada di atas sebongkah batu, di pinggir danau itu, kali ini ia malah melihat dirinya dengan suaminya bergandengan mesra, bercumbu di bawah dingin embun pagi, saling kejar, atau melempar kerikil kecil pada permukaan danau. Perempuan itu terkejut. Ini bukan halunisasi. Ini kenyataan yang tak masuk akal.

Bahkan, perempuan itu melihat dengan jelas ia dan suaminya mampir di sebuah warung, memesan kopi hangat, sambil menikmati camilan khas, tak jauh dari danau itu. Yach, ternyata benar bahwa danau itu seperti kaset raksasa yang telah merekam perempuan itu dengan suaminya, beberapa bulan yang lalu, ketika mereka berbulan madu. Dan untuk memastikan apa yang ia saksikan barusan, perempuan itu bergegas menemui dirinya dan suaminya di warung itu. Ia akan menanyakan, apa sebenarnya yang telah terjadi. Ketika akan bangkit dari ranjang mini itu, perempuan tersebut tak memiliki kekuatan apa-apa. Tubuhnya tak bisa digerakkan. Bahkan, ia tak ingat apaapa. Lalu, sukma perempuan itu berhamburan keluar. Orang-orang yang berada dipinggir danau takjub dan heran ketika melihat selembar sinar putih melintas menuju warung kopi, tak jauh dari danau itu.

Iklan